Bangsa Yang Dimurkai Allah [20]

Dalam sebuah hadits, Imam At-Tirmidzi meriwayatkan Nabi Muhammad saw menjelaskan kepada sahabat ‘Adi bin Hatim bahwasanya:

“Kaum Yahudi mereka itulah yang dimurkai Allah dan kaum Nasrani mereka itulah yang tersesat.”

Bila mendengar hadits di atas setiap muslim yang rajin membaca surah Al-Fatihah di dalam sholatnya pasti teringat dua ayat terakhir. Karena di dalamnya seorang muslim memohon kepada Allah dengan doa sebagai berikut:

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS Al-Fatihah ayat 6-7)

Setiap muslim tentunya berharap dirinya berada di atas jalan lurus, jalan yang mendatangkan keRidhaan Allah, jalan agama Cahaya Allah, Al-Islam. Jalan yang menghubungkan kafilah panjang orang-orang beriman sejak zaman Ummat Nabiyullah pertama Nabi Adam as hingga Ummat Nabiyullah terakhir Nabi Muhammad saw.

Bahkan jalan tersebut dijelaskan Allah dengan ungkapan “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka”. Itulah jalan yang telah ditempuh empat golongan manusia mulia yaitu para Nabiyullah (Nabiyyiin), orang-orang yang jujur (para shiddiiqiin), orang-orang yang mati syahid (syuhadaa) dan orang-orang saleh (sholihiin)(QS An-Nisa ayat 69).

Setiap muslim sangat khawatir jika dirinya masuk ke dalam golongan yang dimurkai Allah maupun yang tersesat. Tipologi golongan yang dimurkai Allah diwakili oleh kaum Yahudi. Sebab mereka telah banyak sekali memperoleh kemuliaan dari Allah tapi mereka salah meresponnya. Alih-alih bersyukur kepada Allah, mereka malah menjadi sombong dan menganggap dirinya bangsa pilihan Allah yang boleh bebas memperlakukan (baca: menzalimi) bangsa-bangsa lain di luar mereka. Padahal kepada mereka telah diutus para Nabiyullah dengan jumlah terbanyak. Seharusnya mereka potensial menjadi bangsa yang paling terbimbing dengan hidayah-petunjuk Allah. Namun sebaliknya, mereka malah berlaku seolah “playing god” di muka bumi. Mereka merasa berhak dan sama sekali tidak bersalah tampil seolah “Maha kuasa atas segala sesuatu.” sehingga merasa berhak menabrak segenap aturan dan hukum yang ada termasuk yang bersumber dari Allah
sekalipun.

Sedangkan golongan yang tersesat, kata Nabi, diwakili oleh komunitas kaum Nasrani. Mereka banyak menampilkan perilaku penuh kasih dan santun-peduli kepada sesama manusia, namun meyakini konsep-keyakinan absurd bahwa Allah memanifestakian dirinya dalam rupa seorang manusia yang hadir ke muka bumi yaitu Nabiyullah Isa as atau Jesus Christ kata mereka.

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata:
“Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam” (QS Al-Maidah ayat 72)

Bahkan mereka berkata bahwa Allah memiliki anak. Padahal mustahil Pencipta dan Penguasa alam semesta -termasuk manusia didalamnya- memerlukan adanya sekutu apalagi anak untuk menunjukkan KekuasaanNya. Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.(QS Maryam 88-93)

Atau mereka beranggapan bahwa konsep ketuhanan itu “Three in one and one in three.”

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa.” (QS Al-Maidah ayat 73)

Kedua golongan ini sama-sama keluar dari rel jalan yang lurus. Namun sudah barang tentu derajatnya berbeda. Yang dimurkai Allah memposisikan diri sebagai penentang bahkan penantang Allah secara aktif. Sedangkan yang tersesat berada pada posisi sebagai orang-orang yang menyimpang dari jalan lurus. Kaum Nasrani menjadi kumpulan orang-orang yang “memiliki amal namun tidak berilmu”. Sedangkan Bangsa Yahudi merupakan kumpulan orang-orang yang “memiliki ilmu tapi tidak diamalkan”. Pantas jika kaum Yahudi menjadi bangsa yang dimurkai Allah sebab Al-Qur’an-pun mengancam dengan firman-Nya:

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaf ayat 3)

Berapa banyak orang cerdas berasal dari kalangan Yahudi. Tapi kecerdasan mereka tidak membuatnya menjadi dekat dan tunduk kepada Allah. Bahkan kian sombong dan berkolaborasi dengan iblis. Sehingga kebencian mereka menjadi amat sangat terhadap orang-orang beriman yang sejatinya dekat dan tunduk kepada Allah.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (QS Al-Maidah ayat 82)

Tidak mengherankan bila Nabi Muhammad saw sampai bersabda:

“Sesungguhnya kaum Yahudi adalah bangsa penuh hasad. Dan tiada hasad mereka melebihi hasadnya terhadap kita(kaum muslimin) dalam hal (ucapan) salam dan (ucapan) amin.” (Shahih Ibnu Khuzaimah)

Ucapan “Assalamu’alaikum” yang diucapkan sesama muslim menggambarkan cinta dan persaudaraan. Hal ini sangat dibenci oleh kaum Yahudi. Mereka berusaha sekuat tenaga memecah belah barisan Islam. Sedangkan ucapan “Amin” menggambarkan gairah dan kebiasaan muslimin beribadah sholat berjamaah di masjid. Hal inipun sangat dicemburui oleh kaum Yahudi. Sehingga segenap program pengalih perhatian direkayasa oleh mereka agar ummat Islam meninggalkan kebiasaan sholat berjamaah di masjid. Dengan kata lain baik garis horizontal hablun minannaas (hubungan antar manusia) maupun hablun minAllah (hubungan dengan Allah) berusaha diputus oleh bangsa yang dimurkai Allah ini, kaum Yahudi.

Namun ajaran Allah dan RasulNya tentunya tidak mengajarkan apalagi membenarkan sikap diskriminatif. Oleh karenanya baik di dalam nash-nash Islam maupun bukti sejarah ditunujukkan bahwa jika seorang Nasrani ataupun Yahudi kemudian bertaubat dan mau dengan loyal mengikuti hidayah-petunjuk Allah dengan memeluk  Islam, maka ia akan segera diperlakukan sebagai saudara seiman dengan penuh cinta dan persaudaraan. Seorang Nasrani akan dipandang sebagai hamba Allah yang telah kembali ke jalan yang benar dan lurus bila ia menerima aqidah salim “tiada tuhan selain Allah.” Sedangkan seorang Yahudi akan langsung dipandang sebagai hamba Allah yang telah keluar dari kesatuan bangsa yang dimurkai Allah untuk masuk ke dalam kesatuan ummat yang dirahmatiNya insyaAllah.

________________________________________________________

Reference : Era muslim, Quran Digital,

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bangsa Yang Dimurkai Allah [20]"

Posting Komentar