Bangsa Yahudi merupakan Bangsa Ibrani [9]

Bangsa Ibrani
Bangsa Yahudi atau Bani Israel, juga dikenal dengan nama lain sebagai bangsa Ibrani. Sebutan yang belakangan ini kurang disukai oleh kaum Zionis karena dapat membuka kedok kedustaan yang mereka simpan selama berabad-abad. Kaum Zionis berupaya agar mereka hanya dikenal sebagai bangsa Israel atau jika tidak sebutan Yahudi pun mereka terima dengan malu-malu dan penuh kecurigaan. Siapa pun yang sedikit saja menyinggung ke-yahudi-an mereka, langsung mereka cap sebagai anti-Semit (Smith).
 
Padahal, bukan hanya bangsa Yahudi yang masuk ke dalam rumpun bangsa Smith, tetapi juga bangsa Arab dan Suriah. Walau banyak ilmuwan Yahudi yang menjadi corong kekuatan Zionisme, tetapi masih ada ilmuwan-ilmuwan Yahudi yang secara jujur mengemukakan asal-muasal sejarah bangsanya sendiri. Di antara yang sedikit itu terdapat nama Dr. Israel Wilson yang meletakkan pengertian secara jernih tentang arti kata ‘Ibrani’.
Menurut Dr. Wilson, penyebutan ‘Ibrani’ lebih tepat dinisbatkan kepada asal-muasal bangsa Yahudi itu sendiri. “Bangsa Israel pada dasarnya adalah bangsa nomaden yang hidup di padang pasir dan tidak menetap di suatu tempat. Mereka selalu berpindah- pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya, dengan membawa serta ternak, onta, dan binatang-binatang peliharaannya, guna mencari tempat yang cukup banyak air dan rumput. Sebab itu, istilah ibri sesungguhnya lebih tepat berasal dari bahasa Arab yang berbunyi ‘a-ba-ra’ yang memiliki pengertian melakukan perjalanan dengan menyeberang lembah atau sungai,” demikian Dr. Wilson (Tarikh al-Lughat al-Samiyah). “Kalimat ibri itu sendiri sama artinya dengan istilah ‘badawi’ (badui) dalam bahasa Arab,” terangnya. Dr. Fuad Husnain dalam ‘Al-Taurats’ menulis, “Orang-orang Ibrani adalah bangsa yang tidak berperadaban, nomaden (selalu berpindah dan tidak memiliki wilayah yang tetap), dan tidak memiliki budaya; datang kepada bangsa-bangsa lain yang memiliki peradaban dan kebudayaan. Dan tidaklah mudah menyatukan dan mengintegrasikan antara dua kelompok tersebut, orang-orang Ibrani sebagai pendatang dengan penduduk setempat.”


Oleh sejarawan Charles Kent dalam ‘History of The Hebrew People’, kondisi-kondisi internal bangsa Ibrani tersebut menyebabkan secara turun-temurun mereka merasakan adanya rasa keterasingan yang lalu menjadikan mereka sebagai bangsa yang tertutup, dan selalu mencurigai orang-orang di luar mereka sepanjang sejarah, serta menjadikan bangsa-bangsa lain di sekitarnya Sebagai musuh. Hal tersebut, lanjut Kent, menyebabkan bangsa ini tidak mengikatkan loyalitasnya kepada tanah atau negeri yang menyatukan mereka dengan bangsa-bangsa lain. Loyalitas mereka hanya ditujukan kepada kelompoknya saja, maka jadilah kelompok tersebut tanah air dan agama mereka yang selalu disucikan.

Diaspora dan Zionisme

Dari penelitian para pakar sejarah Yahudi sendiri ditemukan fakta jika bangsa Yahudi merupakan bangsa yang terbiasa nomaden, tidak terikat kepada satu wilayah atau satu tanah, dan sebab itu tidak memiliki peradaban. Bahkan sejumlah temuan pakar Yahudi bersesuaian dengan nash-nash di dalam al-Qur’an yang menyatakan asal-muasal bangsa Yahudi atau Bani Israil ini bukan di Tanah Palestina tetapi berasal dari Harran, wilayah di utara Irak.

Asal kata istilah Ibrani atau ‘Ibri’ yang berarti menyeberang (a-ba-ra, Arab) atau dalam pengertian secara harfiah berarti selalu bergerak inilah yang juga dibenarkan oleh nash-nash dalam al-Qur’an yang turun kemudian yang menyatakan Bani Israil merupakan bangsa yang selalu mengembara dan tersebar di berbagai wilayah dunia (diaspora). Hal tersebut merupakan suatu takdir yang diberikan oleh Allah SWT kepada Bani Israil karena sikap mereka yang tidak mengkhianati Musa dan para Nabi Allah
lainnya.

Berabad-abad lamanya kaum Yahudi menerima takdirini dengan lapang dada. Mereka terserak di berbagai wilayah di dunia, Eropa hingga Afrika dan juga Asia. Hanya saja, disebabkan sifat dari bangsa Yahudi yang selalu saja berkhianat, mau menang sendiri, dan segala sifat jelek lainnya, mereka ini banyak mendapat musuh di tanah di mana mereka tinggal.

Mereka sama sekali tidak mau membaur dan membangun perkampungan-perkampungan tertutup yang disebut ghetto. Dalam beberapa buku sejarah disebutkan bahwa di dalam ghetto-ghetto inilah kaum Yahudi biasa melakukan ritual-ritual Kabbalis yang banyak menumpahkan darah manusia dan binatang yang antara lain dibuat sebagai minuman bagi mereka sendiri. Kisah tentang pembunuhan sadis yang dilakukan para pendeta Yahudi terhadap Pendeta Toma al-Kabusyi dan pembantunya di Syiria tahun 1840 M menjadi salah satu contoh mengerikan tentang sifat bangsa ini

Oleh sekelompok pendeta tertinggi Yahudi, takdir bangsa ini untuk terus diaspora berusaha dibelokkan menjadi satu bangsa yang menetap, dan tanpa bukti sejarah yang cukup mereka secara sepihak mengklaim bahwa Tanah Palestina merupakan tanah leluhur kaum Yahudi. Gerakan ini di kemudian hari dikenal sebagai gerakan Zionisme dengan tokohnya yang dimunculkan ke permukaan bernama Theodore Hertzl. Mengenai hal tersebut, pemuka Yahudi Ortodoks Neturei Karta Rabbi Dovid Israel Weiss berujar, “Zionisme yang berangkat dari Talmud, merupakan pengkhianatan terhadap nilai-nilai Yudaisme yang bersandar pada Taurat Musa.”

(Bagi yang ingin mengetahui kisah ini lebih lanjut silakan baca buku Talmud: Kitab Hitam Yang Menggemparkan; Prof. Dr. Muhammad asy-Syarqawi2006) , Era muslim, Tarikh al-Lughat al-Samiyah).

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bangsa Yahudi merupakan Bangsa Ibrani [9]"

Posting Komentar