Raden Muhammad Udjang Toha (Mohammad Toha)
Sejarah yang
terabaikan, tapi entah memang diabaikan ataukah kita yang tidak ingin
mengetahui bahwa bagaimana nasib kisah-kisah masa lalu yang selama ini
terlanjur sudah tersebar luas merupakan informasi yang sangat ambigu, lalu kita
melumatnya seakan-akan tak peduli lagi ada batu yang seharusnya dikeluarkan.
Bagian terpenting dari sejarah adalah bagaimana perwujudan cerita yang
sebenarnya telah tersimpan bertahun-tahun, ternyata tidak tersampaikan secara
meluas hingga perlahan-lahan termakan ruang dan waktu. Selamat membaca.
Sumber:
Wikipedia |
Seperti yang kita kenal, Mohammad Toha merupakan
pahlawan Nasional yang memperjuangkan Kota Bandung dalam peristiwa Bandung
Lautan Api. Beliau lahir di Bandung pada tahun 1927 dan meninggal tanggal 11
Juli 1946.
Toha dilahirkan di Jalan Banceuy, Desa Suniaraja, Kota Bandung pada tahun 1927. Ayahnya bernama Suganda dan ibunya yang berasal dari Kedunghalang, Bogor Utara, Bogor, bernama Nariah. Toha menjadi anak yatim ketika pada tahun 1929 ayahnya meninggal dunia. Ibu Nariah kemudian menikah kembali dengan Sugandi, adik ayah Toha. Namun tidak lama kemudian, keduanya bercerai dan Muhammad Toha diambil oleh kakek dan neneknya dari pihak ayah yaitu Bapak Jahiri dan Ibu Oneng. Toha mulai masuk Volk School (Sekolah Rakyat) pada usia 7 tahun hingga kelas 4. Sekolahnya terhenti ketika Perang Dunia II pecah
Sejarah yang Terabaikan
Sebenarnya semua hal yang pernah diceritakan mengenai Mohammad
Toha (termasuk yang penjelasan di atas) merupakan informasi yang belum
lengkap. Bahkan beberapa data hanya dibuat-buat, silahkan cari
dibeberapa buku, atau dalam bentuk media sosial lainnya yang seringkali kita
cari di Google. Tak ada satupun cerita sejarah beliau yang
benar-benar orisinil.
Cerita
sedikit bagaimana saya mendapatkan informasi Mohammad Toha, pada mulanya saya
diberi tugas dari kampus untuk membuat jurnal sebagai nilai Ujian Akhir
Semester. Untuk judul jurnalnya saya putuskan “Kontribusi Pahlawan Bandung
Terhadap Kemerdekaan Indonesia.” Salah satu yang menarik bagi saya yaitu
Mohammad Toha yang berjuang meledakan gudang mesiu milik sekutu yang bertempat
di Dayeuh Kolot. Lanjutlah saya mencari sumber iseng-iseng lewat Youtube, lalu
saya menemukan salah satu pengguna di kolom komentar yang mengaku bahwa beliau
adalah keturunan asli dari Muhammad Toha. Saya coba hubungi beliau melalui WA,
karena untungnya beliau pun mencantumakan nomor WhatsAppnya.
Tanggal
11 November 2020 pukul 16.09 sore, saya memberi salam dan memperkenalkan diri
bahawa saya merupakan Mahasisiwa ingin meminta beberapa informasi dan data-data
orisinil terkait Mohammad Toha seperti yang telah disampampaikan dikolom
komentar unggahan video Youtube . Saya berharap bahwa nomor yang diberikan
masih aktif dan tidak bohong. Keesokan harinya sekitar pukul 12.00 siang saya
dapat pesan yang akhirnya dijawab olehnya. Namanya ialah R.M Asa’ari, biasa
dipanggil Pak Ari yang mengaku bahwa dirinya merupakan keturunan asli dari
Mohammad Toha, Hal yang mengejutkan adalah ia mengirim tiga foto yakni,
Pertama foto asli Mohammad Toha.
Sangat
berbeda dengan foto yang kita kenal, bahkan telah tersebar luas. Yang selama
ini kita kenal hanyalah merupakan sketsa saja dan monumen R.M. Udjang Toha yang
berada di Dayeuh Kolot yang tidak tahu seperti apa wajah asli dari Mohammad
Toha.
Kedua, foto berisi surat asli beliau ketika ingin mengabarkan kepada Presiden Soeharto bahwa Mohammad Toha masih hidup.
Isi Surat tersebut yaitu :
PUSAT JANTUNG HATI SI
BELANDA.
Inilah yang harus dimusnahkan.
AL-HAMDULILLAH, BISYUKRILLAHHIL’AZIMI WABIHAMDIH, Pak toha dapat
berhimpun kembali pada teman-teman GAIB nya, di bawah Pimpinan Bapak Al-Marhum
R.Sastrokartono DOKTOR GAIB di Bandung, beliau ini adalah kakak kandung dari
Al-Marhumah R.Ajeng Kartini (Ibu-Indonesia) dan beliau ini meninggal di tahun
1963 sekitar usianya 116 tahun umurnya dan bertempat tinggal di Jalan Pungkur
BANDUNG di waktu itu, guna mendapatkan restu dari beliau, hanya dengan dengungan
ditelinga Pak TOHA, dari pimpinan kegaiban merintahkan berjuang dalam
kesucian/dapat kemenangan Dunia/Akhirat inilah PAK TOHA INDONESIA yang disangka
orang sudah mati, Pak Toha masih hidup, bila-ada dipanggil ia sedapat mungkin
datang bila diperlukan data-data sebahagiannya dari yang dijalankannya yang
sudah-sudah, Pak Toha bila dikukuhkan dengan agama Islam, Pak Toha adalah Pak
Toha Indonesia, tidak Propinsialis, Pak Toha lagi menyusun ceriteranya dari
yang dilaluinya, Cihamerung di Daerah Bandung Lautan Api, sampai menjumpai
mohon RESTU pada Yang Mulia Al-Marhum Bapak Panglima Tertinggi, dengan inilah
seluruh kekuatan musuh menjadi lemah, dipatahkan/ditusuk JANTUNG HATI si
BELANDA dengan GORILYA masuk ke-seluruh-KOTA-menembus JASA-perundingan di KONPRENSI
MEJAH BUNDER. ……
Sudah lama tak terasa, baru ini disurati hingga mencapai 38 tahun
lamanya tukilan dari R.M Ujang Toha alias Pak Toha Veteran 6.006.815. Pensiunan
dari Departemen Agama semenjak di Tahun 1981 mulai dipensiunkan, hanya didapat
baru tiga buah Bintang JASA dari Pemerintah Republik Indonesia ini ialah dari
AJUDAN JENDRAL KODAM IV/SWJ, dengan tukilan surat ini guna menjadi bahan data
pada adik-adik GENERASI MUDA/GENERASI PENERUS masa PEMBAGUNAN Sangatlah
beruntung jika setempatnya ada mempunyai isi ceritera cas di Komplek Sumatera
Selatan ini, cerita kenyataan yang telah berlalu, seakan-akan mimpi tadi-malam,
tidak hilang dengan begitu saja, mudah-mudahan Tuhan bersama kita melindungi
kejayaan Indonesia selama-lamanya, WABILLAHIT, TAUFIQI.
WASSALAMU’ALAIKUM WR.WB
A M I N .
Palembang, 17 Januari 1983.-
Tanda tangan Penyusun
( R.M. UDJANG TOHA ).
NPV. 6.006.851.-
“Sebenarnya,
pada tahun 2004 disalah satu stasiun TV RCTI dalam acara Silet pernah
mengangkat cerita ini yang kemudian diberitakan bahwa keluarga Mohammad Toha
akan diberi penghargaan serta bantuan tunai dari pemerintah. Namun sampai
sekarang tak ada kabar lagi. Kami juga masih bingung bagaimana
mempublikasikannya karena tak ada yang percaya kalau Muhammad Toha masih hidup.
Padahal kami banyak bukti dan saksi mata kejadian. Saya juga waktu itu masih
muda dan belum memiliki WA maupun Facebook untuk memberitakan bahwa Muhammad
Toha berada di Palembang” Tutur Pak Asa’ari.
Ketiga, KTA (Kartu Tanda Anggota) beliau ketika masih menjadi anggota Legiun Veteran.
“Ini kartu KTA beliau selagi masih di Legiun Vateran. Nama asli
beliau ialah Raden Muhammad Udjang Toha, dipanggil. Pak Toha/Mang Toha /Wak
Toha, lahir. tanggal 1-3-1925 dan wafat pada tahun 2000 dimakamkan di
taman Makam Pahlawan Palembang.” Tutur Pak Asa’ari.
Saya sangat menghargai membaca cerita tersebut, bahkan dikirmkan
beberapa dokumen asli membuat saya ingin berkunjung langsung pada alamat Pak
Ari untuk melihat dan mendengarkan cerita lebih mendalam. Saya mengira jika Pak
Asa’ari bertempat tinggal di Bandung, karena saya berpikir bahwa Mohammad Toha
tempat kelahiran dan tinggalnya di Bandung juga sebagaimana cerita sejarah yang
diinformasikan dibeberapa halaman website. Ternyata Pak Ari rumahnya di Jalan
Pangeran Ratu Jakabaring, Palembang. Sayang sekali.
Selang dua hari, saya memberi tahu kepada beliau bahwa, “Saya tak
bisa datang ke alamat yang telah ditujukan, terutama dikarenakan pihak kampus
memberi waktu yang sangat singkat, padahal dibutuhkan waktu yang sangat banyak
dan juga biaya lain-lain, bahkan dalam keadaan pandemi saat ini. Tetapi jika
bapak bersedia ingin memberi info lebih banyak lagi melalui media chat WA atau
mengirim voice note rekaman cerita langsung dari suara bapak, saya tersanjung
dan sangat senang. Saya tidak memaksa, dan jika dirasa kisahnya sudah cukup
untuk disampaikan di hari kemarin lusa, tidak apa-apa.”
Maka dari itulah, saya dengan Pak Ari memiliki ruang yang terbatas
dan hanya bisa mengandalkan WhatsApp untuk berbagi sejarah. Begitupun saya
sudah bersyukur walaupun telah mengenal seorang keturunan asli dari Mohammad
Toha.
Sayangnya, untuk membuat jurnal mencari referensi sejarah hanya bisa lewat wawancara langsung dan sumber
sekunder. Maka dari itulah saya coba menuliskan disini dan mungkin hanya ini
platform satu-satunya yang bisa saya gunakan.
CERITA SINGKAT MOHAMMAD TOHA
(Tulisan yang saya buat ini merupakan asli yang
dikatakan narasumber dan saya tidak mengada-ngada, saya berusaha menyunting
ulang kalimatnya agar cerita ini mudah dipahami dan tidak merusak esensinya
maupun terdistorsi.)
Beliau banyak bercerita tentang Mohammad Toha dan peristiwa Bandung Lautan Api bahwa ketika hendak memperjuangkan Kota Bandung dari para Penjajah, beliau berangkat ke Bandung bersama tujuh orang. Kemudian setelah kejadian Bandung Lautan Api pun kembali pulang menuju Palembang yang tersisa hanya empat orang. Sayangnya tiga orang lainnya dinyatakan telah hilang. Empat orang saksi mata peristiwa Bandung Lautan api itu adalah; Pertama, yaitu Muhammad Toha sendiri. Kedua, Kak Haji Al Munawas (nama panggilan). Ketiga, Cek Mas (nama panggilan). Dan terakhir Pak Jafar (nama panggilan). Kalau Muhammad Toha sendiri sudah wafat tahun 2000. Namun tidak ada yang tahu dengan yang tiga orang lagi yang telah disebutkan. apakah masih hidup ataukah sudah wafat.
Sebab Mohammad Toha Belum Meninggal
Beliau bisa lolos dari pengeboman itu karena beliau
memiliki; Pertama, benda anti peluru dan anti bom berupa besi
kuningan berbentuk persegi delapan yang merupakan warisan dari Sultan Machmud
Badaruddin I, namun sekarang hilang dan sedang dicari lagi. Kedua,
rantai babi. Ketiga, beliau pernah berguru dengan ulama Arab yang
tinggal di Bandung yg bernama Syekh Izzi. itu yg saya tahu dari cerita beliau
dan sahabat beliau yg seperjuangan. Beliau juga pernah berguru dengan kakaknya
ibu Kartini, tapi saya kurang tahu namanya. Nah, setelah kejadian itu beliau
kembali pulang ke Palembang yang tersisa hanya empat orang. Dan yang tiga orang
lagi masih tinggal di Bandung dan tidak tahu bagaimana kabarnya.
Beliau pada saat itu masih hidup karna beliau dan temen
seperjuangannya disebut sebagai Pasukan Ghaib, contoh kenapa
Jendral Bambang Utoyo, yang merupakan komandan beliau tidak mati ketika di bom
oleh musuh. karena Jendral Bambang Utoyo juga kebal. Setiap harinya dilakukan
tes satu persatu kepada para prajurit milik Jendral Bambang Utoyo, termasuk
Muhammad Toha yang merupakan bawahannya. Tes yang dilakukannya yaitu megang
geranat satu persatu, dan itupun tidak meletus, cendrung berasap saja.
Beliau itu misterius maka dari itulah disebut prajurit pasukan
ghaib . saya tidak perlu beliau mau dianggap pahlawan atau tidak cuma saya
marah ketika. cerita beliau yg di ada-ada. lihat saja tulisan. beliau. memakai
mesin tik. untuk diberikan kepada Bung Karno saat itu. Begitulah cerita
aslinya cuma difoto kurang jelas ketikan tulisannya
Sebab Mohammad Toha Wafat
Beliau sempat dirawat di rumah sakit AK Gani, Palembang karena
sakit liver pada tahun 2000 dengan umur sekitar 75 tahun. Beliau dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Palembang.
Raden Sastrokartono merupakan kakak kandung dari R.A Kartini.
Raden Sastrokartono meninggal tahun 63 yang umurnya pada saat itu berusia 116
tahun. Baca saja teks surat sampai habis sejak beliau masih hidup bisa menjadi
saksi. Namun banyak yang tak percaya hingga beliau wafat tahun 2000.
Kakak perempuan beliau bernama Raden Ayu Ningdep yang menikah
degan sepupu dari pada Wakil Presiden Muhammad Hatta pada era Bung Karno. Saya
memanggilnya Wak Seman dan beliau tinggal di Palembang juga. Dulu ada fotonya,
Bapak saya (Muhammad Toha), Muhammad Hatta, dan Wak Seman dimeja bundar.
Sekarang fotonya sedang dicari karena sudah lama tidak dilihat.
Kesalahan Sejarah Yang Telah Tersebar Luas
Bandingkan dengan salah satu cerita Muhammad Toha sejarah pada halaman website:
https://guruakuntansi.co.id/biografi-mohammad-toha/
Kita bandingkan foto asli Muhammad Toha dengan patung beliau dan
ciri-ciri di google serta. persamaan nama. lalu beda tahunnya sedikit. yang
aslinya beliau lahir tahun 1925. Tetapi di google dan sumber lain tahun 1927.
Orang lain hanya mengira mungkin umurnya sekitar tahun 1927, bahkan tidak
disebutkan tepat tanggal dan bulannya, hanya tahunnya yang dicantumkan.
Kemudian dikatakan, nama bapaknya ialah Suganda seolah-olah adik
bapaknya berarti Sugandi. Selayaknya adalah orang kembar. Parahnya lagi
dikatakan bahwa bapaknya meninggal maka dari itu ibunya menikah lagi degan
pamannya. Berarti yang dinikahi ibunya ialah laki-laki. tapi diceritanya itu
lebih parah, adik bapaknya Sugandi itu adalah saudara perempuan
bapaknya Muhammad Toha. Mana mungkin ibunya menikah dengan perempuan. Lalu
kisahnya seolah-olah di dramatisir, bapaknya meninggal, ibunya nikah lagi
dengan pamannya, terus cerai lagi. kemudian dia diasuh oleh nenek dan kakeknya.
Semua cerita di Google itu mengada-ngada. Lantas apa yang
membuat cerita dramatisr itu dibuat-buat?
Penutup
Ini baru sebagian kecil
yang saya tulis dari yang sebenarnya dibandingkan dengan jika diceritakan
langsung oleh Pak Ari akan lebih mengeutkan. Karena beliau pun sejak kecil
selalu diceritakan kisah-kisah perjuangan Mohammad Toha dan sering bertemu
dengan teman-temannyanya, bahkan tidak hanya di Bandung Lautan Api saja.
Kejadian perjuangan di Palembang juga turut ikut serta berjuang seperti Perang
lim hari lima malam di Palembang yang tidak banyak orang tahu.
Insyaallah jika Allah menghendaki saya untuk bertemu langsung dengan Pa Asa’ari, saya akan membuat tulisan yang akan mengupas sejarah Mohammad Toha yang istilahnya mungkin selama ini informasinya tidak sengaja terdistorsi. Semoga sedikit dari tulisan ini bisa terdengar oleh khalayak umum bahkan tersentuh sampai pemerintah dan para sejarawan terkenal agar kehidupan dari keturunan pejuang ini mampu diberi bantuan secepatnya. Walahu a’lam bish-shawabi.
Jika menginginkan
informasi lanjut silakan hubungi:
WhatsApp : 089656059186




lihat google emang ada kisah raden sostrokartono berteman dgn muhammad toha dan beliau adalah kakak dr ibuk kartini. dan beliau dr ghaib yg mengobati dgn media air putih
BalasHapusAlhamdulillah ada sedikit info :) kalau boleh tau di mana referensi kisah itu diangkat? boleh minta link nya? Insyaallah saya kembangkan lagi dengan baik
Hapus