Brotherhood of The Snake [3]
Kelompok
Persaudaraan Ular ini oleh para sejarawan Barat sendiri diyakini berada di balik
rezim-rezim besar penentang para Nabi Allah SWT. Mereka inilah para pendeta
tertinggi Amon yang berada di balik kekuasaan represif Fir’aun, mereka pula
yang membunuh para Nabi Allah, mereka inilah yang menghasut Herodes agar mengejar
Nabi Isa a.s., mereka pula yang menghasut Paus Urbanus II agar mengibarkan
bendera perang salib, mereka pula yang mendirikan Ordo Sion, Knights Templar,
Freemasonry, dan sekarang mengejawantah dalam gerakan Zionisme, di mana kitab
setan yang bernama Talmud menjadi kitab suci mereka.
Pernahkah Anda
memikirkan gerangan apa yang menyebabkan suku-suku dan bangsa-bangsa kuno yang tersebar di berbagai
pelosok dunia, berjauhan jarak beda benua, dipisahkan samudera raya, di saat
listrik belum ditemukan, belum ada teve, radio, apalagi internet dan satelit,
namun mereka yang tersebar tersebut telah memiliki ritual dan ‘tuhan’ yang
nyaris sama? Mereka menyembah tuhan yang
semuanya bercirikan api, tentunya dengan berbagai nama dan simbol, namun pada
hakikatnya adalah satu. Mari kita simak beberapa contoh kecil dari peradaban
kuno dunia yang terserak di berbagai belahan bumi:
Di Irak
![]() |
| The Sun of God, Babylonia |
Ritual Namrudz
inilah yang diadopsi menjadi ritual bangsa pagan Roma Kuno dan berabad kemudian
diadopsi jadi penyembahan Dewa Matahari yang dilakukan setiap 25 Desember. Hari
penyembahan Dewa Matahari (The Sun of God) dilakukan setiap hari Minggu
(Sun-Day) disebut sebagai Kebaktian. Inilah cikal bakal kebaktian dari umat
kristiani.
Di Persia,
hidup pula kaum
Majusi yang dikenal sebagai suatu kaum penyembah Api (Zoroasterian), yang
disimbolkan sebagai Tuhan Matahari (Ahuramazda).
Bangsa Yunani kuno (Greek)
Memiliki banyak
dewa-dewi seperti halnya bangsa pagan Roma. Salah satu dewanya adalah Dewa
Matahari yang juga disebut Helios. Bahkan untuk berkhidmat kepada dewa ini,
dibangun sebuah kota yang dinamakan sebagai Heliopolis (Kota Cahaya).
Bangsa pagan Roma
Mereka telah
mengenal Dewa Mithra (Mithraisme) sebagai Dewa Matahari, yang merupakan pengaruh
dari ritual Persia.
Di Mesir
Di mesir
berkuasa Dinasti Pharaoh atau Fir’aun. Di Mesir kuno, kita akan melihat banyak sekali
kemiripan pola ritual dengan Raja Namrudz yang banyak memiliki ritual penyembahan
terhadap Tuhan Matahari. Fir’aun sendiri menyebut dirinya sebagai Raja Cahaya.
Di Mesir ini, Dewa Matahari disebut sebagai Ra.
Di Amerika Selatan
![]() |
| Virachocha |
Bangsa Jepang
sampai sekarang masih menganut agama Sinto yang inti ritualnya merupakan
penyembahan terhadap Dewa Matahari, Amaterasu. Di saat Jepang masih menjajah
Indonesia dalam Perang Dunia II, tiap pagi saat matahari terbit rakyat
Indonesia dipaksa untuk menghadapkan badan ke arah matahari terbit dan
membungkukkan badannya untuk menghormati Dewa Mataharinya Nippon.
Kaum Syirian
Kaum Syirian
(Suriah) kuno juga mengenal Dewa Matahari yang disebutnya Adonis dan Atis.
Di India
Di India,
masyarakatnya sampai sekarang masih mempercayai Dewa-Dewi yang disebutnya Btara
dan Btari. Salah satunya adalah Btara Indra atau juga disebut Btara Surya yang
merupakan Dewa Matahari. Belum ada satu pun sejarawan yang berhasil menemukan
jawaban mengapa semua bangsa kuno ini memiliki ritual penyembahan terhadap
sesuatu yang bercirikan api. Yang ada baru
sebatas dugaan-dugaan. Kebanyakan anggapan menyebutkan jika sejak dulu manusia
telah menganggap terang atau cahaya (yang berasal dari api) sebagai zat yang
bisa menolong mereka, kebalikan dari gelap yang diasosiasikan sebagai kekuatan jahat
yang harus dihindari dan diperangi. Sebab itu mereka menyembah api. Ini tentu baru
dugaan sederhana.
TENTARA IBLIS
Karena peradaban
umat manusia berawal dari Tanah Arab dan sekitarnya, maka penelusuran yang
bijak tentang asal-muasal ritual tersebut di atas juga harus dilacak dari
wilayah ini. Di muka telah disebutkan jika Adam-Hawa diikuti iblis turun ke
bumi. Adam dan Hawa bertemu dan beranak-pinak. Sedangkan Iblis terus menghasut
anak cucu Adam agar mau dijadikan bala-tentaranya yang memiliki satu tujuan:
memalingkan manusia dari ketauhidan.
Disebabkan
ritual kelompok iblis ini senantiasa mempergunakan simbol ular, maka sejarawan
J.Robinson yang banyak melakukan penelusuran tentang kelompok-kelompok rahasia
kuno menyebut kelompok ini sebagai Brotherhood of the Snake atau Kelompok Persaudaraan
Ular. Maka sejarah akan selalu dihiasi dengan konflik dan peperangan antara
kelompok yang menyerukan ketauhidan dengan kelompok yang berusaha menentangnya.
Antara al-haq melawan al-bathil. Antara pengikut Adam a.s. melawan kelompok
Iblis.
High Priest- ess
Maxine Dietrich dalam artikelnya berjudul Teachings of Ancient Egypt: The
Brotherhood of the Snake (2002) menulis, “Setan membentuk kelompok Persaudaraan
Ular bagi para manusia pengikutnya agar mereka bisa merasakan kondisi kejiwaan
dan spiritualitas tingkat tertinggi.”
Kelompok
Persaudaraan Ular ini oleh para sejarawan Barat sendiri diyakini berada di
balik rezim-rezim besar penentang
para Nabi Allah SWT. Mereka inilah para pendeta tertinggi Amon yang berada di
balik kekuasaan represif Fir’aun, mereka pula yang membunuh para Nabi Allah,
mereka inilah yang menghasut Herodes agar mengejar Nabi Isa a.s., mereka pula
yang menghasut Paus Urbanus II agar mengibarkan bendera perang salib, mereka
pula yang mendirikan Ordo Sion, Knights Templar, Freemasonry, dan sekarang
mengejawantah dalam gerakan Zionisme, di mana kitab setan yang bernama Talmud
menjadi kitab suci mereka.
Asal-usul
kelompok ini sangat gelap. Namun sejarah mulai menemukan titik terang tatkala
Bani Israil banyak melakukan apa yang telah mereka lakukan. Terlebih dalam perjalanannya
selama berabad-abad, kaum ini mewarisi seluruh cirri-ciri, cara pandang, sikap
hidup, ideologi, dan segala hal yang tadinya dimiliki oleh kelompok pemuja
setan tersebut. Kitab suci al-Qur’an banyak sekali memaparkan tindak-tanduk
kaum ini dan menyematkan berbagai nama bagi mereka yang keseluruhannya mengacu
kepada pembangkangan terhadap ketauhidan. Dan seperti yang
sudah ditoreh dalam lembaran sejarah berabad-abad lamanya, tonggak kehadiran
kaum ini bisa dilihat dalam suatu episode kehidupan sekelompok umat manusia di
Pegunungan Harran, Irak Utara, di saat Nabi Ibrahim a.s. hidup.
_____
Reference: High Priest-ess Maxine Dietrich "Teachings
of Ancient Egypt: The Brotherhood of the Snake"(2002), Era Muslim digest.
dsb,




0 Response to "Brotherhood of The Snake [3]"
Posting Komentar