Harran Mountain [4]


Dalam atlas dunia, banyak wilayah yang masuk dalam cakupan antara 30°Lintang Utara hingga 33° Lintang Utara dipenuhi aroma kemisteriusan sejarah. Di wilayah inilah berada kota Hisroshima yang pernah luluh lantak akibat bom atom Amerika Serikat, lalu ada kota suci Yerusalem yang sampai detik ini terus saja dikangkangi Zionis-Israel, ada pula segitiga Bermuda yang merupakan salah satu wilayah di dunia ini yang banyak menimbulkan kontroversi, dan sebagainya (lihat artikel “33 Degree Mystery”)

Pegunungan Harran yang berada di utara Irak (dahulu Bayilonia), merupakan wilayah yang terletak di 33° Lintang Utara dan juga dipenuhi oleh kabut mistisme sejarah yang sampai sekarang masih saja menimbulkan kontroversi. Kitab suci al-Qur’an tidak secara langsung menyebut Harran, namun di dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 62, lalu surat al-Maaidah ayat 69, dan surat al-Hajj ayat 17, Al- Qur’an secara tegas menyebut istilah ‘kaum Shaabi’un’.

Siapa kaum Shaabi’un ini?

Sejarah mengenal istilah kaum ini dengan nama lain yakni kaum Sabian. Dr. Syauqi Abu Khalil yang dengan cermat melakukan pemetaan dan pencocokan ayat-ayat yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an ke dalam atlas dunia menulis dalam bukunya ‘Atlas Al-Qur’an: Amakin, Aqwam, A’laam’ (Dar el Fikr, Damaskus, 2005) yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia di dalam halaman 162-164 memaparkan tentang kaum ini.

“Orang-orang Shabi’un yang disebutkan al-Qur’an al- Azhim adalah orang-orang yang hanif lagi bertauhid kepada Allah SWT. Mereka datang lebih dahulu daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.Kemudian akidah mereka berkaitan dengan planet dan bintang- bintang, sehingga mereka dituduh sebagai penyembah berhala…”

Lalu lanjutnya, “Shabiah merupakan satu kelompok keagamaan yang sudah ada sejak dulu dan masih ada sampai sekarang. Kelompok ini hidup di utara Irak dengan Ibukota Harran, di antara mereka ada juga yang memeluk Islam. Akidah mereka diliputi dengan sesuatu yang sangat dirahasiakan, karena mereka khawatir akidah itu akan bergeser dan berubah seiring dengan berjalannya waktu.”

Lynn Picknett dan Clive Prince dalam bukunya tersebut menyebut kaum Sabian sebagai Kaum Mandean (asal kata dari ‘manda’ yang berarti Gnosis) dan memuat kisah bangsa ini dalma satu bab khusus. Kaum Mandean (atau Sabian), demikian tulis mereka.

HARRAN MOUNTAIN

sangat religious dan cinta damai. Hukum mereka menentang perang dan cinta damai… “Hingga 1880-an tidak ada satu pun karya akademis yang sungguh- sungguh meneliti kaum Mandean. …Meski pun ramah dan hangat kepada orang asing, pada dasarnya mereka, demi alasan-alasan logis ]merupakan kaum yang agak tertutup dan rahasia.” Pada abad ke-18, para pakar dari Jerman dan Perancis gagal menembus kerahasiaan mereka. Namun Ethel Stevens yang kemudian memakai nama pena ‘Lady Drower’ pada sekitar masa Perang Dunia I berhasil melakukan pendekatan yang intensif terhadap mereka dan akhirnya mampu menguak sebahagian kecil dari rahasia-rahasia besar Kaum Sabian ini. 
 
Picknett dan Prince mengutip Drower, “Kaum Mandean memiliki beberapa teks suci—semua literature mereka bersifat religious. Teks yang paling penting adalah Ginza (Harta Karun), yang juga dikenal dengan nama Kitab Adam; Sidra d’Yahya, atau Kitab Yohanes (juga dikenal sebagai Kitab Raja-Raja), dan Haran Gawaita, yang merupakan kitab sejarah sekter tersebut.” Kitab-kitab yang disebutkan di atas berasal dari zaman setelah Nabi Isa a.s. Sedangkan dari zaman pra-Isa, masih tertutup kabut tebal.

Kajian Lynn Picknett dan Clive Prince yang lebih mengagungkan kajian Barat dan bersikap kurang ilmiah terhadap sejarah Islam, apalagi kajian Qur’anik, membuatnya dalam beberapa bagian terasa bias. Seperti ulasan mereka yang menganggap bahwa Kaum Sabian merupakan bukan penduduk asli dari Harran namun berasal dari Palestina. Ini tentunya bertentangan dengan informasi yang diberikan oleh kajian Qur’anik dan sejarah kenabian Ibrahim a.s. dengan perjalanannya dari Ur Irak selatan, ke Harran, lalu Palestina, Mekkah, dan kembali lagi ke Palestina hingga wafatnya. Namun bisa jadi, karena ruang waktu penelitian mereka memang berdasar pada sekitar kehidupan masa-masa Nabi Isa a.s., maka zaman sebelum itu mereka tidak mendalaminya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Harran Mountain [4]"

Posting Komentar