Nabi Isa dan Korban Pendeta Yahudi [15]
Nabi Isa a.s. atau yang dalam literatur Barat disebut dengan Yesus
merupakan
Nabi Allah yang juga menjadi korban dari konspirasi jahat kaum
Yahudi.
Sutradara Mel Gibson dengan sangat berani mengangkat fakta
sejarah ini
lewat film “The Passion of the Christ’. Dalam film tersebut
dikisahkan
bagaimana para pendeta Yahudi yang tergabung dalam
kelompok
Sanhendrin mengejar-ngejar, mengejek, mengadili Yesus, dan
menghasut
Raja Roma Herodes agar menghukum mati Yesus di tiang salib.
Keberhasilan tentara Herodes dan Sanhendrin menangkap Yesus disebabkan pengkhianatan salah seorang muridnya bernama Yudas Iskariot, yang juga seorang Yahudi.
Suatu ketika datanglah Yudas salah seorang murid Yesus kepada imam-imam kepala Yahudi untuk membicarakan penangkapan Yesus. Yudas berkata “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya (Matius 26: 15).
Setelah para Imam Yahudi tersebut menangkap Yesus, para Imam membawa Yesus kepada Keyafas seorang Imam Besar Yahudi untuk diadili, kemudian Yesus diadili dihadapan Imam besar, para imam, dan sesepuh Yahudi. Dalam pengadilan Yesus tersebut mereka berusaha menemukan kesalahan Yesus yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menghukum mati Yesus :
“Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak,” tanya Imam Besar kepada Yesus.
“Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Jawab Yesus.
“Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatnya. Bagaimana pendapat kamu?” Tanya Imam Besar kepada para Imam dan sesepuh
Yahudi.
“Ia harus dihukum mati!” Jawab mereka lalu mereka meludahi mukanya dan meninjunya.
Film ‘The Passion of the Christ’ mengangkat dengan baik adegan sejarah ini. Oleh Mel Gibson, sesuai dengan refernsi yang ditelusurinya, di setiap kelompok Imam Yahudi itu mencerca atau mengadili Yesus, maka di tengah-tengah Imam Yahudi itu tampak iblis yang menyertai mereka.
Dan ketika matahari telah mencapai atas langit, seluruh imam dan tokoh Yahudi di Roma tersebut berkumpul dan memutuskan jika Yesus harus disalib hingga mati. Mereka lalu membawa Yesus kehadapan Pontius Pilatus, hakim tinggi di Roma, guna memperoleh kekuatan hukum. Semua peristiwa ini terdapat dalam Injil Matius pasal 26: 63-67 dan pasal 27:1-2 dimana Yesus dihukum karena dituduh telah menghujat kepercayaan mereka selama ini.
Pontius Pilatus yang enggan menyalibkan Yesus mencoba agar Yesus bisa diselamatkan. Menurut tradisi Roma kuno, setiap tahun maka harus ada seorang tahanan yang dilepas, maka kesempatan ini digunakan oleh Pilatus untuk membebaskan Yesus. Kepada para imam Yahudi, Pilatus membawa Barabas, seorang perampok, dan Yesus. Pilatus bertanya kepada para imam Yahudi mana yang akan dibebaskan. “Saya tidak menemukan kesalahan pada orang ini!” ujar Pilatus menunjuk Yesus. Namun dengan serentak, para Imam Yahudi berkata, “Jangan dia! Bebaskan saja Barabas!” Bagi para imam Yahudi, seorang perampok lebih baik ketimbang seorang Nabi Allah SWT.
Korban Yahudi Kabbalah
Yesus alias Nabi Isa a.s. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa a.s. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa mengakui jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia. Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan, Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’.
Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewanti- wanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Matius 10:5-6)
Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.
Ajaran Paulus inilah, yang ditulis pada 49 M (Galatia), yang mempengaruhi Injil- Injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M). Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.
Banyak sekali kedurhakaan orang-orang Bani Israil kepada Yesus, Nabi Allah yang mengajarkan tauhid. Jabir bin Abdullah meriwayatkan Rasulullah Saw bersabda : "Allah telah memberikanku lima hal yang tidak pernah diberikan pada Rasul-Rasul sebelum aku, setiap Rasul diutus hanya kepada bangsanya saja sedangkan diriku untuk seluruh manusia". Jelaslah, semua ini bersesuaian dengan ajaran Nabi Isa a.s. yang asli dan bukan ajaran Paulus yang bersumber dari ajaran mistis Kabbalah yang ingin menghancurkan para Nabi Allah.
Keberhasilan tentara Herodes dan Sanhendrin menangkap Yesus disebabkan pengkhianatan salah seorang muridnya bernama Yudas Iskariot, yang juga seorang Yahudi.
Suatu ketika datanglah Yudas salah seorang murid Yesus kepada imam-imam kepala Yahudi untuk membicarakan penangkapan Yesus. Yudas berkata “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Yesus kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya (Matius 26: 15).
Setelah para Imam Yahudi tersebut menangkap Yesus, para Imam membawa Yesus kepada Keyafas seorang Imam Besar Yahudi untuk diadili, kemudian Yesus diadili dihadapan Imam besar, para imam, dan sesepuh Yahudi. Dalam pengadilan Yesus tersebut mereka berusaha menemukan kesalahan Yesus yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menghukum mati Yesus :
“Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak,” tanya Imam Besar kepada Yesus.
“Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.” Jawab Yesus.
“Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatnya. Bagaimana pendapat kamu?” Tanya Imam Besar kepada para Imam dan sesepuh
Yahudi.
“Ia harus dihukum mati!” Jawab mereka lalu mereka meludahi mukanya dan meninjunya.
Film ‘The Passion of the Christ’ mengangkat dengan baik adegan sejarah ini. Oleh Mel Gibson, sesuai dengan refernsi yang ditelusurinya, di setiap kelompok Imam Yahudi itu mencerca atau mengadili Yesus, maka di tengah-tengah Imam Yahudi itu tampak iblis yang menyertai mereka.
Dan ketika matahari telah mencapai atas langit, seluruh imam dan tokoh Yahudi di Roma tersebut berkumpul dan memutuskan jika Yesus harus disalib hingga mati. Mereka lalu membawa Yesus kehadapan Pontius Pilatus, hakim tinggi di Roma, guna memperoleh kekuatan hukum. Semua peristiwa ini terdapat dalam Injil Matius pasal 26: 63-67 dan pasal 27:1-2 dimana Yesus dihukum karena dituduh telah menghujat kepercayaan mereka selama ini.
Pontius Pilatus yang enggan menyalibkan Yesus mencoba agar Yesus bisa diselamatkan. Menurut tradisi Roma kuno, setiap tahun maka harus ada seorang tahanan yang dilepas, maka kesempatan ini digunakan oleh Pilatus untuk membebaskan Yesus. Kepada para imam Yahudi, Pilatus membawa Barabas, seorang perampok, dan Yesus. Pilatus bertanya kepada para imam Yahudi mana yang akan dibebaskan. “Saya tidak menemukan kesalahan pada orang ini!” ujar Pilatus menunjuk Yesus. Namun dengan serentak, para Imam Yahudi berkata, “Jangan dia! Bebaskan saja Barabas!” Bagi para imam Yahudi, seorang perampok lebih baik ketimbang seorang Nabi Allah SWT.
Korban Yahudi Kabbalah
Yesus alias Nabi Isa a.s. merupakan nabi yang diturunkan Allah kepada Bani Israil. Tugasnya adalah untuk menyelamatkan Bani Israil dari kesesatan yang telah lama dilakukan kaum tersebut. Allah SWT masih menyayangi kaum Musa a.s. ini dan menurunkan satu nabi lagi khusus untuk mereka. Nabi Isa mengakui jika dirinya diutus Allah hanya untuk kaumnya saja, Bani Israil, dan bukan untuk umat manusia seluruh dunia. Di dalam Injil sendiri ada peristiwa di mana Yesus menolak seorang wanita Kanaan (Palestina) yang meminta anaknya disembuhkan dari kemasukan setan, Yesus menolak dan mengatakan, “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” (Matius 15 :24). Yesus sendiri menolong perempuan itu juga, namun tidak menyuruh perempuan itu untuk ‘pindah keyakinan’.
Penegasan itu juga nampak dari pesan Yesus kepada para muridnya yang mewanti- wanti mereka untuk tidak menyebarkan ajarannya kepada orang selain dari Bani Israil. Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Matius 10:5-6)
Telah jelas bahwa Yesus menegaskan dirinya hanya untuk Bani Israil. Namun para misionaris mengklaim bahwa hal itu hanya berlaku sebelum kebangkitan. Setelah dibangkitkan maka misinya untuk umat manusia seluruh dunia. Perubahan mendasar ini berangkat dari ajaran Paulus, seorang Yahudi dari Tarsus yang mengaku-aku sebagai murid Yesus.
Ajaran Paulus inilah, yang ditulis pada 49 M (Galatia), yang mempengaruhi Injil- Injil yang ditulis sesudahnya yakni injil Markus (55 M), Injil Matius (60-an M), Injil Yohanes (80 M), dan Injil Lukas (60 M). Paulus, Yahudi dari Tarsus, di dalam banyak ayat Injil digambarkan sebagai seorang murid yang banyak tidak patuh pada Yesus, bahkan Yesus dalam banyak ayat memarahi dia hingga menendangnya.
Banyak sekali kedurhakaan orang-orang Bani Israil kepada Yesus, Nabi Allah yang mengajarkan tauhid. Jabir bin Abdullah meriwayatkan Rasulullah Saw bersabda : "Allah telah memberikanku lima hal yang tidak pernah diberikan pada Rasul-Rasul sebelum aku, setiap Rasul diutus hanya kepada bangsanya saja sedangkan diriku untuk seluruh manusia". Jelaslah, semua ini bersesuaian dengan ajaran Nabi Isa a.s. yang asli dan bukan ajaran Paulus yang bersumber dari ajaran mistis Kabbalah yang ingin menghancurkan para Nabi Allah.

0 Response to "Nabi Isa dan Korban Pendeta Yahudi [15]"
Posting Komentar