Kisah Nabi Daud Melawan Jalut [10]
Kitab suci al-Qur’an memuat nama Nabi Daud sebanyak enambelas kali
dalam
sembilan suratnya. Daud termasuk nabi-nabi keturunan Bani Israil,
dari
keturunan Yakub bin Ishaq bin Ibrahim. Beliau termasuk salah
seorang
rasul yang diberi kitab samawi sesudah Musa a.s., di mana
Allah
menurunkan Zabur kepada beliau, sebagaimana firman Allah: “Dan
Kami
berikan Zabur kepada Daud”. (QS. Al-Israa’: 55)
Sepeninggal Nabi
Musa dan Harun, Bani Israil dipimpin oleh Yusya’ bin Nun dan
memasuki
Tanah Palestina pada tahun 1200 SM. Padahal, bangsa Kanaan telah
berdiam
di Palestina sejak tahun 2500 SM. Keadaan bangsa Kanaan di
Palestina masih dalam
kejahiliyahan. Mereka menyembah Dewa Baal,
mengorbankan manusia sebagai
sesembahan dewa, dan melakukan banyak ritus
birahi yang dipersembahkan kepada
Dewi Ashera.
Bani Israil di
bawah pimpinan Yusya’ bin Nun menyerbu bangsa Kanaan dan
menghancurkan
mereka. Tanah Palestina pun dikuasai kaum Yahudi yang membagi-
bagi
wilayah Palestina menjadi 12 ‘negara bagian’ sesuai jumlah suku mereka.
Setelah
Yusya’ bin Nun wafat, roda pemerintahan dipegang oleh para
hakim. Sistem ini berlangsung
selama lebih kurang 356 tahun dan sejarah
mencatat masa ini sebagai
“Pemerintahan Hakim-Hakim’.
Di masa yang
panjang tersebut, Bani Israil
yang memang cenderung kepada kesesatan
secara perlahan namun
pasti meninggalkan Taurat Musa.
Mereka kembali
kepada
kepercayaan iblis yang penuh
dengan kemaksiatan dan
kemungkaran.
Mereka
menghidup-hidupkan ajaran sesat
yang dibawa oleh tokoh
Kabbalah
di masa Musa bernama
Samiri (Shamir). Keadaan ini
menjadikan Bani Israil
yang
semula kuat menjadi lemah dan
diambang kehancuran. Melihat
kondisi
ini, bangsa-bangsa yang menyimpan
dendam terhadap mereka
melakukan
serangan. Bangsa Amaliqah, Armenia, Kanaan,
dan yang lain-lain
di sekitar mereka menuai kemenangan
dalam banyak pertempuran.
Kekalahan demi kekalahan yang diderita Bani Israil tidak menyebabkan mereka sadar. Mereka
bahkan kian bertambah tambah penyelewengannya. Allah memberikan mereka banyak nabi, namun mereka siksa dan bunuh utusan Allah tersebut. Agar menjadi pelajaran bagi mereka, Allah memberikan kekuasaan kepada raja-raja kejam yang suka menindas dan menyiksa mereka. Sehingga sedikit demi sedikit wilayah yang mereka kuasai berhasil direbut kembali oleh musuh-musuhnya.
Bani Israil kembali menjadi bangsa nomaden yang tidak punya tanah yang tetap, sehingga sedikit di antara mereka mulai mengadu kepada Tuhan. Hal ini dipaparkan di dalam Qur’an dengan terang dan jelas. “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah kepemimpinannya) di jalan Allah. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu enggan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim”. (Al-Baqarah: 246)
Thalut diangkat oleh Allah menjadikan Raja mereka dengan alasan bahwa Thalut adalah seorang yang fisiknya bagus kekar dan cerdas. Namun Bani Israil menolak keputusan Tuhan dengan alasan: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Akhirnya, Thalut jadi raja bagi Bani Israil, dan Allah mengukuhkannya dengan datangnya Tabut yang diperselisihkan ke tengah-tengah mereka. Thalut memilih pasukan yang kuat lagi perkasa untuk memerangi musuh-musuh mereka yang dipimpin oleh Jalut yang kejam dan perkasa.
Dalam perjalanan untuk merebut kembali Palestina, Thalut memerintahkan kepada Bani Israil agar tidak meminum air jika menemukan sungai. Namun tatkala mereka menjumpai sungai, banyak dari mereka yang melanggar Thalut. Raja ini pun segera memisahkan mereka dari barisannya. Menjelang gerbang Palestina, pasukan Thalut yang sudah jauh berkurang jumlahnya berdiri berhadap-hadapan dengan pasukan Jalut yang perkasa lagi banyak jumlahnya. Pasukan Thalut gentar melihat musuhnya. Mereka banyak yang hendak melarian diri dari induk pasukan. Namun tiba-tiba seorang penggembala yang ikut dalam barisan Thalut maju ke depan. Dialah Daud bin Yakub. Daud yang tubuhnya jauh lebih kecil dibanding Jalut dengan keimanan yang lurus tidak merasa gentar sedikit pun berhadap- hadapan dengan Jalut yang terlihat begitu besar dan perkasa. Literatur Barat memaparkan peristiwa herois ini dalam kisah David and Goliath.
Singkat cerita, Jalut pun kalah dan menemui ajal. Bani Israil bisa lagi menguasai Palestina. Thalut meninggal dan digantikan oleh Daud. Nabi Allah ini kemudian menjadi Raja Bani Israil yang sangat sholih. Namun anehnya, Injil melukiskan Nabi Daud yang mulia ini dengan paparan yang sangat tidak masuk akal seperti tuduhan bahwa Daud telah berzinah dengan Betsyeba (2 Sam 11). Pertanyaannya, apakah mungkin seorang manusia, bahkan seorang Rasul seperti Daud a.s. yang diamanahkan Allah SWT kitab Zabur, sedemikian buruk sifatnya sehingga masih terperosok dalam dosa zina yang amat dahsyat hukumannya? Ini adalah mustahil. Pakar Yudaisme, Dr. Muhammad Izzat Dorouza menyatakan jika yang buruk bukanlah Nabi Daud, namun ayat-ayat tersebutlah yang telah dicemari oleh tangan-tangan jahat konspirasi Yahudi.

0 Response to "Kisah Nabi Daud Melawan Jalut [10]"
Posting Komentar