Nabi Zakaria dan Kelahiran Nabi Yahya [12]

Nabi Zakaria as. Merupakan nabi Allah yang ke-22 dan diutus kepada Bani Israil agar mereka kembali ke jalan ketauhidan dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan kemusyrikan. Dalam usia yang sudah mencapai angka sembilan, Nabi Zakaria a.s. baru dikaruniai anak yang kemudian diberi nama Yahya a.s. Isteri Nabi Zakaria bernama Hana, ibu saudaranya Maryam yang dikemudian hari melahirkan Nabi Isa a.s.

Sudah puluhan tahun sejak menikah dengan Hana, Nabi Zakaria menginginkan memiliki keturunan. Siang dan malam tiada henti-hentinya Zakaria a.s. memanjatkan doa dan permohonan kepada Allah agar dikurniai seorang putera yang akan dapat meneruskan tugasnya memimpin Bani Israil agar bisa kembali menapaki jalan ketahuidan. Zakaria cemas, jika tidak ada pewaris, maka Bani Israil akan kian menjadi kaum yang menyimpang dari jalan lurus, membuang Taurat Musa dan menggantinya dengan peraturan yang dibuatnya sendiri.

Tiap hari, Zakaria melakukan sembahyang di mihrab besar dan menjenguk Maryam, anak iparnya yang diserahkan kepada mihrab oleh ibunya sesuai dengan nadzarnya sewaktu ia masih dalam kandungan. Zakaria memang ditugaskan oleh para pengurus mihrab untuk mengawasi Maryam sejak ia diserahkan oleh ibunya. Tugas pengawasan atas diri Maryam diterima oleh Zakaria melalui musyawarah yang dilakukan oleh para pengurus mihrab di kala menerima bayi Maryam yang diserahkan pengawasannya.

Dengan perlahan, setiap hari, Nabi Zakaria yang sudah lanjut usianya, kepalanyanya sudah dipenuhi uban dan tulangnya sudah tak lagi kokoh, jalannya pun sudah bungkuk, pergi ke mihrab. Dia sudah tidak kuasa lagi untuk berjalan lebih jauh, selain ke tempat ibadatnya untuk beribadat dan memberikan pelajaran. Di tempat beribadat itulah dia setiap hari menunaikan kewajibannya. Setelah larut malam, dia pulang ke rumahnya mendapatkan isterinya, Hana. Isteri Zakaria juga sudah lanjut usia dengan keadaan fisik yang juga sama dengan suaminya.

Hana tiap hari berjualan di sebuah kedai kecil yang sekadar bisa untuk menyambung hidup keluarganya. Jika ada keuntungan lebih, maka itu langsung disedekahkan kepada orang yang lebih memerlukannya. Bila selesai berjualan, dia pulang ke rumah dan tidak ada yang lain yang dikerjakannya, kecuali beribadah, memuji, dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan pada hari itu.

Walau sudah tua, keduanya tidak putus pengharapan agar dikaruniai anak. Namun sebagai manusia biasa, mereka juga sadar jika usia mereka yang sudah kepala sembilan sepertinya mustahil untuk bisa memperoleh keturunan. Hal ini sering membuat mereka gundah-gulana. Namun walau demikian, mereka tetap memanjatkan doa pengharapan kepada Allah agar diberi jalan untuk bisa memperoleh anak. Inilah keadaan yang menimpa kedua orang shalih tersebut.

Suatu hari, Zakaria masuk ke mihrabnya seperti biasanya. Dia lalu masuk ke mihrab Maryam, seorang gadis kecil yang berada di samping mihrabnya sendiri. Didapatinya Maryam sedang tenggelam dalam pemikirannya, asyik dengan sembahyangnya, sedang dihadapannya tersedia aneka buah-buahan lezat musim panas yang di saat itu tidak akan bisa ditemui karena saat tersebut sedang musim dingin.

kisah siti maryam dan Zakaria
Nabi Zakaria dan Maryam
Melihat kejadian ini Zakaria merasa heran. Dari manakah asal buah-buahan tersebut, sedangkan peraturan yang ada tidak membolehkan seorang manusia pun selain dirinya yang boleh masuk ke mihrab Maryam. Dengan perlahan Zakaria bertanya pada Maryam, “Wahai Mariam, dari manakah datangnya buah buahan itu?” Maryam dengan lembut dan penuh sopan santun menjawab, “Makanan ini dari Allah. Allah telah mengirimnya kepada saya tiap pagi dan tiap petang tanpa saya minta. Janganlah engkau terperanjat, bukankah Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki?”

Zakaria terdiam dan semakin sayang pada gadis kecil itu. Dalam hatinya tertanam keyakinan kuat bahwa suatu hari gadis tersebut akan menjadi seseorang yang tidak biasa dan dekat dengan Allah. Zakaria lalu menengadahkan kedua belah tangannya, berdoa ke hadhirat Allah dengan segenap jiwa raganya, “Ya, Allah! Janganlah aku Engkau biarkan seorang diri, Engkau sebaik baik Zat yang memberi turunan. Ya Tuhanku, telah lemah tulang belulangku dan telah penuh uban di kepalaku, dan bukanlah aku seorang sial dalam berdoa kepadaMu. Sesungguhnya aku cemas akan keadaan keluarga yang akan kutinggalkan. Beri jualah kepadaku akan karunia-Mu seorang yang akan menjadi penggantiku!”

Tiba-tiba Zakaria dikejutkan oleh suara lembut dan penuh damai yang ada di dalam ruangan tersebut yang diyakininya merupakan malaikat Allah. “Ya, Zakaria! Allah akan memberimu seorang anak keturunan yang bernama Yahya. Belum ada manusia sebelumnya yang bernama Yahya.” Suara itu begitu jelas terdengar.

Walau hatinya diliputi kebahagiaan yang teramat sangat, namun Zakaria juga bingung karena dirinya dan isterinya sudah sangat tua. Menyadari hal tersebut suara itu terdengar kembali, “Janganlah cemas, bukankah Allah yang menjadikanmu, sedangkan sebelumnya kamu tidak ada? Dan Tuhan itu pulalah yang akan memberi engkau seorang anak.”

Walau sangat berbahagia, namun Zakaria masih belum yakin sepenuhnya. Orangtua itu lalu meminta tanda yang bisa memperkuat keyakinannya. Akhirnya Allah menyatakan jika Zakaria tidak akan bisa mengeluarkan suaranya selama tiga hari dan hanya bisa menggunakan bahasa isyarat sebagai tanda kebenaran-Nya. Hal ini benar terjadi dan tenanglah hati Zakaria.

Tidak lama kemudian, isterinya yang sudah tua itu, lalu mengandung dan akhirnya melahirkan seorang anak yang suci dan mulia, serta diberi nama Yahya, seperti yang telah ditentukan Allah. Yahya tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, kuat, dan shalih Walau masih muda belia, Yahya telah mampu menghafal isi kitab suci Taurat, paham dengan segala hal yang pelik, dan bijaksana. Sebab itu Yahya kemudian diangkat menjadi penengah jika ada soal-soal yang sulit untuk dipecahkan.

Dia menjadi hakim yang adil. Dengan penuh keberanian, Yahya memutuskan segala perkara dengan adil, dan tidak gentar menghukum yang salah. Tidak seorang juga yang berani menentang kata dan melanggar aturan yang ditetapkannya.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nabi Zakaria dan Kelahiran Nabi Yahya [12]"

Posting Komentar