Nabi Ibrahim Hingga Nabi Musa [7]
Nabi Ibrahim berasal dari salah satu keluarga terkemuka bangsa
Armenia
dari ras Smith—seperti juga dinisbatkan pada orang Suriah dan
Arab—
yang dilahirkan di wilayah Ur Kildaniyah, Irak selatan. Ayah
Ibrahim
merupakan seorang pematung istana kesayangan Raja Namrudz
yang
bekerja siang-malam membuat patung-patung yang dijadikan tuhan
oleh
Namrudz dan rakyatnya.
Seperti halnya saat kelahiran Musa, menjelang kelahiran Ibrahim pun didahului oleh peristiwa pembersihan besar-besaran yang dilakukan penguasa terhadap anak laki- laki yang akan dan baru lahir. Syahdan, menjelang kelahiran Nabi Ibrahim, Namrudz bermimpi melihat sebuah bintang yang sinarnya sangat kemilau menerangi bumi di waktu malam dan oleh para penasehatnya yang merupakan para penyihir Kabbalis ditafsirkan jika mimpi itu merupakan pertanda akan lahirnya seseorang yang jika besar bisa menggoyahkan kekuasaan sang raja. Kisahnya mirip dengan mimpi Fir’aun sebelum kelahiran Nabi Musa.
Al-Qur’an telah menginformasikan kepada kita tentang kisah Ibrahim ini dalam banyak surat, antara lain surat Ali ‘Imran, An-Nisaa’, al-An’aam, Al-Anbiyaa’ dan banyak lagi. Akibat pemberontakannya, Ibrahim dimusuhi kaumnya dan dijatuhi hukum bakar oleh Namrudz di Babylonia. Setelah gagal di bakar, Ibrahim bersama Sarah, sang isteri, dan Luth, saudaranya, melarikan diri ke arah utara dan selama beberapa waktu berdiam di Harran, sekitar 600 mil dari Ur yang kini terletak di antara wilayah Turki, Suriah, dan Irak utara. Dari Harran, rombongan Ibrahim ini melanjutkan perjalanannya ke arah Barat dan Selatan, lewati Aleppo, dan kemudian ke Yerusalem serta Hebron, disertai dengan sejumlah orang yang mengikutinya dari Har menyeberangi sungai Euphrat atau bahkan sungai Yordania, dan atau mereka orang-orang nomad yang selalu berpindah tempat
Karena kekeringan, mereka lantas ke Mesir. Sebagian rombongan Ibrahim ada yang tetap di Palestina, sebagian lagi ada yang ke Mesir yang saat itu sedang diperintah King of Hyksos. Dari Mesir, masih bersama Luth, Ibrahim dan orang-orangnya kembali ke selatan Palestina. Ada pula yang tetap tinggal di Mesir. Di Palestina, keduanya berpisah. Luth tinggal di selatan Laut Mati dengan kaumnya dan Ibrahim tingal sebentar di sumur As-Saba’, lalu melakukan perjalanan kembali bersama isterinya keduanya, Hajar dan Ismail ke Mekkah. Di tanah yang gersang dan tandus ini, allah SWT memerintahkan agar Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail. Dengan rahmat allah SWT, dari tanah yang tandus itu memancar air zam-zam yang hingga kini masih bisa dinikmati oleh jutaan orang yang pergi haji ke Mekkah. Ibrahim sendiri kembali ke Palestina dan meninggal di kota al-Khalil (Hebron).
Pemerhati sejarah Yudaisme asal Perancis, Roger Garaudi dalam “The Case of Israel, a Study of Political Zionism” (London, 1985) mengutip Joseph Reinach yang menulis di dalam Journal des Debats (30/3/1919) yang dengan argumen historisnya yang meyakinan menandaskan jika Yahudi ketika masa awal di Palestina bukanlah mengacu pada etnis namun kepada religiusitas. Etnis Yahudi tidak ada yang murni karena berasal dari suku bangsa yang berbeda pada awalnya, yakni dari orang-orang Romawi, Yunani, Semit (Aran dan Suriah), Mesir, serta Kanaan sendiri.
Orang-orang Harran yang ikut dengan rombongan Ibrahim ke Palestina disebut Ibrani, dan secara keterlanjuran disebut sebagai Yahudi. “Karena sebenarnya memang tidak ada apa yang dinamakan suku bangsa Yahudi, atau pun juga Negara Yahudi tersebut, tetapi sesunguhnya yang ada itu hanyalah agama Yahudi, maka zionisme itu sebenarnya adalah buah pikiran yang tolol dan tidak berguna karena mengandung kesalahan rangkap tiga: historis, arkeologis, dan etnis,” tandas Reinach.
Ismail dan Ishaq
Ismail merupakan anak tertua Ibrahim dari Hajar dan ditinggalkan di Hijaz. Sedang Ishaq anak kedua dari Sarah yang menetap di Palestina. Ishaq dikarunia dua anak yaitu Esssau dan Yaqub atau yang juga dikenal sebagai Israel. Yaqub menikah dengan dua orang anak pamannya, Lea dan Rahel; lalu menikah pula dengan Zilfa dan Belha. Zilfa adalah budak milik Lea dan Belha budaknya Rahel. Dari merekalah Yaqub dikaruniai 12 anak yang diklaim sebagai 12 suku bangsa Israel. Kesepuluh anak Yaqub merasa iri dengan Benyamin dan Yusuf, dua anak Yaqub dari Rahel. Mereka melancarkan konspirasi untuk mencelakakan keduanya. Kisah tentang kejahatan mereka terhadap Yusuf bisa kita baca di banyak literatur. Allah menyelamatkan Yusuf dan menjadikannya salah satu orang penting di istana kerajan
Mesir yang kala itu diperintah oleh Raja Hyksos yang bukan asli Mesir. Saat kekeringan melanda daerah sekitar Mesir, maka Yusuf mengundang orang-orang Ibrani berikut saudara-saudaranya ke Mesir. Inilah eksodus bangsa Ibrani ke Mesir. Mereka kemudian mendapat hidup enak di Mesir. Namun tokoh-tokoh Mesir asli dapat menumbangkan raja-raja Mesir yang bukan asli Mesir sehingga dimulailah dinasti Mesir yang berawal dari Ahmas pada dinasti ke-18. Ketika dinasti ke-19 berdiri, salah satunya Ramses II, raja ini mulai memusuhi bangsa Israel karena sikap mereka yang tidak mau kooperatif, mau menang sendiri, dan kian lama kian banyak kuantitasnya di Mesir. Maka mulailah era penindasan dan penyiksaan DInasti Firaun terhadap orang-orang ini.
Musa kemudian hadir dan membawa Bani Israel keluar dari Mesir menuju Palestina yang sudah didiami oleh banyak suku bangsa. Sejarawan Mat I. Dimont dalam “Jews, God, and History” (tanpa tahun) memaparkan, “Dari masuknya rombongan orang Yahudi ke Mesir oleh Joseph (Yusuf) di abad ke-16 SM, sampai keluarnya rombongan orang Yahudi dari Mesir di bawah Moses (Musa) di abad ke-12 SM, ada kesenyapan selama empat abad.
Dalam periode ini seberapa porsi kemerdekaan yang dijalani oleh bangsa Yahudi di Mesir dan seberapa porsi mereka di dalam perbudakan? Agama apa yang mereka jalani? Berbicara dalam bahasa apa? Adakah perkawinan silang? Sebagai budak-budak, bagaimana mereka memelihara Judaisme mereka? Siapakah pemimpin-pemimpin mereka hingga datangnya Moses? Tak seorang pun tahu.”
Al-Qur’an telah berbicara banyak mengenai perlakuan Bani Israel terhadap Musa. Walau mereka telah ditolong, namun mereka kaum yang tidak mau berterima kasih dan malah mendurhakai Musa dengan lebih mengikuti Samiri, tokoh Kabbalah Mesir, menuhankan patung sapi betina.
Reference: The Case of Israel, a Study of Political Zionism (London,2002), Jews, God, and History, Journal des Debats, www.eramuslim.com
Seperti halnya saat kelahiran Musa, menjelang kelahiran Ibrahim pun didahului oleh peristiwa pembersihan besar-besaran yang dilakukan penguasa terhadap anak laki- laki yang akan dan baru lahir. Syahdan, menjelang kelahiran Nabi Ibrahim, Namrudz bermimpi melihat sebuah bintang yang sinarnya sangat kemilau menerangi bumi di waktu malam dan oleh para penasehatnya yang merupakan para penyihir Kabbalis ditafsirkan jika mimpi itu merupakan pertanda akan lahirnya seseorang yang jika besar bisa menggoyahkan kekuasaan sang raja. Kisahnya mirip dengan mimpi Fir’aun sebelum kelahiran Nabi Musa.
Al-Qur’an telah menginformasikan kepada kita tentang kisah Ibrahim ini dalam banyak surat, antara lain surat Ali ‘Imran, An-Nisaa’, al-An’aam, Al-Anbiyaa’ dan banyak lagi. Akibat pemberontakannya, Ibrahim dimusuhi kaumnya dan dijatuhi hukum bakar oleh Namrudz di Babylonia. Setelah gagal di bakar, Ibrahim bersama Sarah, sang isteri, dan Luth, saudaranya, melarikan diri ke arah utara dan selama beberapa waktu berdiam di Harran, sekitar 600 mil dari Ur yang kini terletak di antara wilayah Turki, Suriah, dan Irak utara. Dari Harran, rombongan Ibrahim ini melanjutkan perjalanannya ke arah Barat dan Selatan, lewati Aleppo, dan kemudian ke Yerusalem serta Hebron, disertai dengan sejumlah orang yang mengikutinya dari Har menyeberangi sungai Euphrat atau bahkan sungai Yordania, dan atau mereka orang-orang nomad yang selalu berpindah tempat
Karena kekeringan, mereka lantas ke Mesir. Sebagian rombongan Ibrahim ada yang tetap di Palestina, sebagian lagi ada yang ke Mesir yang saat itu sedang diperintah King of Hyksos. Dari Mesir, masih bersama Luth, Ibrahim dan orang-orangnya kembali ke selatan Palestina. Ada pula yang tetap tinggal di Mesir. Di Palestina, keduanya berpisah. Luth tinggal di selatan Laut Mati dengan kaumnya dan Ibrahim tingal sebentar di sumur As-Saba’, lalu melakukan perjalanan kembali bersama isterinya keduanya, Hajar dan Ismail ke Mekkah. Di tanah yang gersang dan tandus ini, allah SWT memerintahkan agar Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail. Dengan rahmat allah SWT, dari tanah yang tandus itu memancar air zam-zam yang hingga kini masih bisa dinikmati oleh jutaan orang yang pergi haji ke Mekkah. Ibrahim sendiri kembali ke Palestina dan meninggal di kota al-Khalil (Hebron).
Pemerhati sejarah Yudaisme asal Perancis, Roger Garaudi dalam “The Case of Israel, a Study of Political Zionism” (London, 1985) mengutip Joseph Reinach yang menulis di dalam Journal des Debats (30/3/1919) yang dengan argumen historisnya yang meyakinan menandaskan jika Yahudi ketika masa awal di Palestina bukanlah mengacu pada etnis namun kepada religiusitas. Etnis Yahudi tidak ada yang murni karena berasal dari suku bangsa yang berbeda pada awalnya, yakni dari orang-orang Romawi, Yunani, Semit (Aran dan Suriah), Mesir, serta Kanaan sendiri.
Orang-orang Harran yang ikut dengan rombongan Ibrahim ke Palestina disebut Ibrani, dan secara keterlanjuran disebut sebagai Yahudi. “Karena sebenarnya memang tidak ada apa yang dinamakan suku bangsa Yahudi, atau pun juga Negara Yahudi tersebut, tetapi sesunguhnya yang ada itu hanyalah agama Yahudi, maka zionisme itu sebenarnya adalah buah pikiran yang tolol dan tidak berguna karena mengandung kesalahan rangkap tiga: historis, arkeologis, dan etnis,” tandas Reinach.
Ismail dan Ishaq
Ismail merupakan anak tertua Ibrahim dari Hajar dan ditinggalkan di Hijaz. Sedang Ishaq anak kedua dari Sarah yang menetap di Palestina. Ishaq dikarunia dua anak yaitu Esssau dan Yaqub atau yang juga dikenal sebagai Israel. Yaqub menikah dengan dua orang anak pamannya, Lea dan Rahel; lalu menikah pula dengan Zilfa dan Belha. Zilfa adalah budak milik Lea dan Belha budaknya Rahel. Dari merekalah Yaqub dikaruniai 12 anak yang diklaim sebagai 12 suku bangsa Israel. Kesepuluh anak Yaqub merasa iri dengan Benyamin dan Yusuf, dua anak Yaqub dari Rahel. Mereka melancarkan konspirasi untuk mencelakakan keduanya. Kisah tentang kejahatan mereka terhadap Yusuf bisa kita baca di banyak literatur. Allah menyelamatkan Yusuf dan menjadikannya salah satu orang penting di istana kerajan
Mesir yang kala itu diperintah oleh Raja Hyksos yang bukan asli Mesir. Saat kekeringan melanda daerah sekitar Mesir, maka Yusuf mengundang orang-orang Ibrani berikut saudara-saudaranya ke Mesir. Inilah eksodus bangsa Ibrani ke Mesir. Mereka kemudian mendapat hidup enak di Mesir. Namun tokoh-tokoh Mesir asli dapat menumbangkan raja-raja Mesir yang bukan asli Mesir sehingga dimulailah dinasti Mesir yang berawal dari Ahmas pada dinasti ke-18. Ketika dinasti ke-19 berdiri, salah satunya Ramses II, raja ini mulai memusuhi bangsa Israel karena sikap mereka yang tidak mau kooperatif, mau menang sendiri, dan kian lama kian banyak kuantitasnya di Mesir. Maka mulailah era penindasan dan penyiksaan DInasti Firaun terhadap orang-orang ini.
Musa kemudian hadir dan membawa Bani Israel keluar dari Mesir menuju Palestina yang sudah didiami oleh banyak suku bangsa. Sejarawan Mat I. Dimont dalam “Jews, God, and History” (tanpa tahun) memaparkan, “Dari masuknya rombongan orang Yahudi ke Mesir oleh Joseph (Yusuf) di abad ke-16 SM, sampai keluarnya rombongan orang Yahudi dari Mesir di bawah Moses (Musa) di abad ke-12 SM, ada kesenyapan selama empat abad.
Dalam periode ini seberapa porsi kemerdekaan yang dijalani oleh bangsa Yahudi di Mesir dan seberapa porsi mereka di dalam perbudakan? Agama apa yang mereka jalani? Berbicara dalam bahasa apa? Adakah perkawinan silang? Sebagai budak-budak, bagaimana mereka memelihara Judaisme mereka? Siapakah pemimpin-pemimpin mereka hingga datangnya Moses? Tak seorang pun tahu.”
Al-Qur’an telah berbicara banyak mengenai perlakuan Bani Israel terhadap Musa. Walau mereka telah ditolong, namun mereka kaum yang tidak mau berterima kasih dan malah mendurhakai Musa dengan lebih mengikuti Samiri, tokoh Kabbalah Mesir, menuhankan patung sapi betina.
Reference: The Case of Israel, a Study of Political Zionism (London,2002), Jews, God, and History, Journal des Debats, www.eramuslim.com

0 Response to "Nabi Ibrahim Hingga Nabi Musa [7]"
Posting Komentar