Nabi Sulaiman dan Yahudi [11]
Sulaiman a.s. merupakan anak dari Nabi Daud
a.s. Sulaiman meneruskan
kekuasaan
ayahandanya di kursi kerajaan Bani Israil. Istananya sangat
indah dan megah. Manusia,
binatang, dan jin dikabarkan
bergotong-royong
membangun istana yang megah tersebut.
Dindingnya
terbuat dari batu pualam, tiang dan pintunya dari emas dan tembaga,
atapnya dari perak, hiasan dan
ukirannya dari mutiara dan intan berlian,
pasir di taman
ditaburi mutiara, dan sebagainya.
Sejak remaja, Sulaiman telah memiliki sifat yang bijaksana. Selain itu, beliau juga dianugerahi berbagai kelebihan seperti mampu bercakap-cakap dengan bahasa binatang, mampu menundukkan jin, dan sebagainya.
Kisah tentang Nabi Sulaiman a.s. dan istana yang megah, kisah Hud-Hud, perjumpaannya dengan Ratu Bilqis dari Yaman, dan sebagainya sudah tersebar luas kemana-mana. Pun ketika wafatnya yang tidak biasa, wafat dalam keadaan duduk di singgasananya dengan memegang tongkat sambil mengawasi pekerja bangsa jin yang tengah bekerja, sudah sama-sama diketahui.
Hanya saja, salah satu kelebihan Nabi Sulaiman yang diberikan Allah SWT, yakni mampu menundukkan bangsa jin menjadi tentara dan para pekerjanya. Oleh Yahudi Kabbalah dianggap jika Sulaiman merupakan pimpinan dari dunia gelap. Sulaiman diklaim sepihak sebagai Raja Yahudi (King of Solomon) yang dengan balatentara kekuatan gelapnya—bangsa jin—akan menundukkan dunia ke bawah duli Bangsa Yahudi. Ini tentu tidak benar.
Sulaiman memang yang membangun kuil untuk beribadah bagi kaum Yahudi. Segala sesuatunya sebenarnya sudah dipersiapkan oleh ayahandanya, Nabi Daud a.s. Sejarawan Will Durant menyatakan bahwa model bangunan yang digarap adalah model bangunan yang diambil dari bangsa Phoenicia dari Mesir ditambah dengan model yang diambil dari bangsa Assyria dan Babylonia dalam segi keindahannya. Tetapi perlu diingat bahwa sinagog yang dibangun bukanlah dalam bentuk yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah pagar segi empat yang meliputi beberapa ruangan; ruang utamanya tidak terlalu besar, tingginya sekitar 124 kaki, dan lebarnya 55 kaki.”
Dalam pembangunannya, Sulaiman meminta kontraktor dan arsiteknya dari Raja Hiram Abiff, karena bangsa Yahudi tidak mengetahui cara membuat dan membangun suatu bangunan. Di muka telah disinggung jika kaum Yahudi adalah kaum Nomaden sehingga tidak memiliki peradaban dan selalu saja curiga pada orang asing.
Musa a.s. juga telah melarang kaum Yahudi atau Bani Israil untuk membuat gambar, memahat, mengukir, dan ini semua ditetapkan Musa setelah Tuhan memberitahukannya jika Bani Israil dilarang untuk mengerjakan itu semua karena kecenderungan mereka kepada kesesatan. Jika Bani Israil dibiarkan melakukan itu semua, maka dicemaskan Bani israil akan membuat tandingan-tandingan Tuhan yang lain dan menyembahnya, seperti yang telah diperbuat oleh Samiri.
Sejak remaja, Sulaiman telah memiliki sifat yang bijaksana. Selain itu, beliau juga dianugerahi berbagai kelebihan seperti mampu bercakap-cakap dengan bahasa binatang, mampu menundukkan jin, dan sebagainya.
Kisah tentang Nabi Sulaiman a.s. dan istana yang megah, kisah Hud-Hud, perjumpaannya dengan Ratu Bilqis dari Yaman, dan sebagainya sudah tersebar luas kemana-mana. Pun ketika wafatnya yang tidak biasa, wafat dalam keadaan duduk di singgasananya dengan memegang tongkat sambil mengawasi pekerja bangsa jin yang tengah bekerja, sudah sama-sama diketahui.
Hanya saja, salah satu kelebihan Nabi Sulaiman yang diberikan Allah SWT, yakni mampu menundukkan bangsa jin menjadi tentara dan para pekerjanya. Oleh Yahudi Kabbalah dianggap jika Sulaiman merupakan pimpinan dari dunia gelap. Sulaiman diklaim sepihak sebagai Raja Yahudi (King of Solomon) yang dengan balatentara kekuatan gelapnya—bangsa jin—akan menundukkan dunia ke bawah duli Bangsa Yahudi. Ini tentu tidak benar.
Sulaiman memang yang membangun kuil untuk beribadah bagi kaum Yahudi. Segala sesuatunya sebenarnya sudah dipersiapkan oleh ayahandanya, Nabi Daud a.s. Sejarawan Will Durant menyatakan bahwa model bangunan yang digarap adalah model bangunan yang diambil dari bangsa Phoenicia dari Mesir ditambah dengan model yang diambil dari bangsa Assyria dan Babylonia dalam segi keindahannya. Tetapi perlu diingat bahwa sinagog yang dibangun bukanlah dalam bentuk yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah pagar segi empat yang meliputi beberapa ruangan; ruang utamanya tidak terlalu besar, tingginya sekitar 124 kaki, dan lebarnya 55 kaki.”
Dalam pembangunannya, Sulaiman meminta kontraktor dan arsiteknya dari Raja Hiram Abiff, karena bangsa Yahudi tidak mengetahui cara membuat dan membangun suatu bangunan. Di muka telah disinggung jika kaum Yahudi adalah kaum Nomaden sehingga tidak memiliki peradaban dan selalu saja curiga pada orang asing.
Musa a.s. juga telah melarang kaum Yahudi atau Bani Israil untuk membuat gambar, memahat, mengukir, dan ini semua ditetapkan Musa setelah Tuhan memberitahukannya jika Bani Israil dilarang untuk mengerjakan itu semua karena kecenderungan mereka kepada kesesatan. Jika Bani Israil dibiarkan melakukan itu semua, maka dicemaskan Bani israil akan membuat tandingan-tandingan Tuhan yang lain dan menyembahnya, seperti yang telah diperbuat oleh Samiri.
![]() | ||
| Ark of Covenant ( Tabut Nabi Musa) |
Diklaim Kaum Kabbalah
Nabi Sulaiman a.s. merupakan Nabi Allah yang tentunya memiliki akidah yang lurus. Tidaklah mungkin seorang Nabi Allah menjadi seorang manusia yang memimpin satu kaum dan mengajak kaumnya untuk menyembah sesuatu selain menyembah Allah ta’ala. Demikian pula dengan Nabi Sulaiman a.s. Namun disebabkan Sulaiman mampu menundukkan bangsa jin dan bahkan memiliki pekerja dan barisan tentara dari mahluk halus ini, oleh kaum Yahudi Kabbalah yang gemar dengan segala bentuk sihir dan ritus-ritus syirik, Sulaiman dianggap sebagai raja mereka dan disebut sebagai King of Solomon. Terlebih lagi memang Nabi Sulaiman merupakan seorang raja Bani Israil yang memiliki istana megah dan indah, serta dianugerahi banyak kelebihan oleh Allah SWT.
Di masa Nabi Sulaiman hidup (985-922 SM), kaum Yahudi Kabbalah tidak berani secara terbuka mengatakan jika Sulaiman merupakan raja bagi mereka. Mereka juga tidak berani—atau tidak ada catatan sejarah mengenai hal ini—mengaitkan Nabi Sulaiman dengan iblis-iblis sesembahan mereka seperti Asmodei atau Asmodeus, iblis penjaga harta karun (yang dikemudian hari ditambahkan sebutannya sebagai Iblis penjaga harta karun King Solomon).
Barulah setelah wafatnya Nabi Sulaiman, mereka mengarang cerita bahwa Sulaiman merupakan raja bagi mereka dan mewariskan harta karun kerajaannya yang sangat banyak dan bernilai kepada Bani Israil. Berabad-abad, kaum Talmudian ini tidak terdengar beritanya. Hanya saja, pembunuhan para Nabi Allah terus saja terjadi seperti yang menimpa Zakaria a.s. dan Yahya a.s. Sedangkan Nabi Isa a.s. mereka kejar-kejar dan ingin juga mereka bunuh. Barulah saat Perang Salib pertama, sekitar tahun 1118, di saat dibentuknya Knights Templar (Ksatria Kuil, yang mengacu pada Kuil Sulaiman), kaum Talmudian ini melakukan evakuasi di bawah pondasi Masjidil Aqsha dengan dalih untuk mencari harta karun Sulaiman. Dua peneliti Barat bernama Robert Lomas dan Christopher Knight yang menulis buku ‘The Hiram Key’ menemukan sisa-sisa upaya penggalian yang dilakukan Templar di bawah markas mereka di salah satu sayap istana Raja Yerusalem. Berbagai peralatan untuk eskavasi (penggalian) pun ditemukan di bekas markas Templar tersebut.
Klaim sepihak kaum Kabbalah terhadap Nabi Sulaiman a.s. tentunya sangat tidak beralasan. Dan bukan sekali dua saja mereka mengklaim hal-hal yang sebenarnya tidak ada landasan historisnya sama sekali seperti mitos yang mengatakan bahwa Tanah Palestina merupakan tanah leluhur mereka dan sebagainya. Kaum Yahudi memang dikenal dalam sejarah sebagai kaum yang banyak melakukan kerusakan di muka bumi dan juga pendusta.
Qishat al-Hadlarah, vol.II, Era Muslim, Hoshmer: The Jews
Nabi Sulaiman a.s. merupakan Nabi Allah yang tentunya memiliki akidah yang lurus. Tidaklah mungkin seorang Nabi Allah menjadi seorang manusia yang memimpin satu kaum dan mengajak kaumnya untuk menyembah sesuatu selain menyembah Allah ta’ala. Demikian pula dengan Nabi Sulaiman a.s. Namun disebabkan Sulaiman mampu menundukkan bangsa jin dan bahkan memiliki pekerja dan barisan tentara dari mahluk halus ini, oleh kaum Yahudi Kabbalah yang gemar dengan segala bentuk sihir dan ritus-ritus syirik, Sulaiman dianggap sebagai raja mereka dan disebut sebagai King of Solomon. Terlebih lagi memang Nabi Sulaiman merupakan seorang raja Bani Israil yang memiliki istana megah dan indah, serta dianugerahi banyak kelebihan oleh Allah SWT.
Di masa Nabi Sulaiman hidup (985-922 SM), kaum Yahudi Kabbalah tidak berani secara terbuka mengatakan jika Sulaiman merupakan raja bagi mereka. Mereka juga tidak berani—atau tidak ada catatan sejarah mengenai hal ini—mengaitkan Nabi Sulaiman dengan iblis-iblis sesembahan mereka seperti Asmodei atau Asmodeus, iblis penjaga harta karun (yang dikemudian hari ditambahkan sebutannya sebagai Iblis penjaga harta karun King Solomon).
Barulah setelah wafatnya Nabi Sulaiman, mereka mengarang cerita bahwa Sulaiman merupakan raja bagi mereka dan mewariskan harta karun kerajaannya yang sangat banyak dan bernilai kepada Bani Israil. Berabad-abad, kaum Talmudian ini tidak terdengar beritanya. Hanya saja, pembunuhan para Nabi Allah terus saja terjadi seperti yang menimpa Zakaria a.s. dan Yahya a.s. Sedangkan Nabi Isa a.s. mereka kejar-kejar dan ingin juga mereka bunuh. Barulah saat Perang Salib pertama, sekitar tahun 1118, di saat dibentuknya Knights Templar (Ksatria Kuil, yang mengacu pada Kuil Sulaiman), kaum Talmudian ini melakukan evakuasi di bawah pondasi Masjidil Aqsha dengan dalih untuk mencari harta karun Sulaiman. Dua peneliti Barat bernama Robert Lomas dan Christopher Knight yang menulis buku ‘The Hiram Key’ menemukan sisa-sisa upaya penggalian yang dilakukan Templar di bawah markas mereka di salah satu sayap istana Raja Yerusalem. Berbagai peralatan untuk eskavasi (penggalian) pun ditemukan di bekas markas Templar tersebut.
Klaim sepihak kaum Kabbalah terhadap Nabi Sulaiman a.s. tentunya sangat tidak beralasan. Dan bukan sekali dua saja mereka mengklaim hal-hal yang sebenarnya tidak ada landasan historisnya sama sekali seperti mitos yang mengatakan bahwa Tanah Palestina merupakan tanah leluhur mereka dan sebagainya. Kaum Yahudi memang dikenal dalam sejarah sebagai kaum yang banyak melakukan kerusakan di muka bumi dan juga pendusta.
Qishat al-Hadlarah, vol.II, Era Muslim, Hoshmer: The Jews


0 Response to "Nabi Sulaiman dan Yahudi [11]"
Posting Komentar